Suksesi 

Perubahan yang terjadi pada komunitas secara umum dikenal dengan istilah suksesi, pertama kali digunakan oleh Hult pada tahun 1885 dalam studi tentang perubahan komunitas. Suksesi adalah sesuatu perubahan vegetasi (komunitas tumbuhan) pada suatu tempat tertentu (Setiadi dan Tjondronegoro 1989). Mengenai dasar suksesi pertama kali dicetuskan oleh  Cowles pada tahun 1989, sedangkan untuk prinsip dan teorinya dikemukakan secara mendalam oleh Clements pada masa setelah Cowles, yaitu tahun 1907 (Gopal & Bharwaj 1979).

Studi pertama kali dilakukan mengenai suksesi adalah di Indonesia, yaitu di Pulau Kratatau. Letusan vulkanik di Gunung Kratatau pada tanggal 28-27 Agustus 1883 telah memusnahkan flora dan fauna yang ada di pulau tersebut, dan mengurangi ukuran pulau tersebut sampai sepertiga ukuran semula. Pasca tiga tahun setelah Krakatau meletus yaitu pada tahun 1886 tercatat lebih dari 11 spesies tumbuhan yang tumbuh sebagai tumbuhan pionir, bunga-bungaan sebanyak 8 spesies, dan tumbuhan lainnya sekitar 8 spesies. Tumbuh-tumbuhan tersebut pada umumnya berinvansi dari pulau terdekat yaitu Sumatera dan Jawa. Pada tahun 1897 semakin meningkat mencapai 62 spesies, 114 spesies pada  tahun 1906,  271 pada tahun 1933 (Indriyanto 2006). Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa kerusakan yang disebabkan oleh gunung krakatau, mekanisme berkaitan dengan mekanisme daya lenting (resilience power) pengarahan pulih kembali yang mengarah pada keseimbangan komunitas, hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan komposisi terutama tumbuhan sebagai pionir.

Suksesi Primer : Setiadi dan Tjondronegoro (1989) menyebutkan bahwa suksesi yang terjadi di gunung Krakatau adalah salah satu suksesi primer, hal ini berbeda dari Hutan yang di Sumatera merupakan suksesi sekunder pasca kebakaran. Selain itu, Gopal & Bharwaj (1979) menyebutkan bahwa suksesi primer suksesi yang terjadi awalnya pada lahan yang tidak memiliki vegetasi. Lahan yang tidak memiliki vegetasi artinya bisa saja sebelumnya  pernah memiliki vegetasi, tetapi mengalami gangguan secara luas dan hampir semuanya.  Tahapan yang terjadi dalam suksesi primer menurut Soerianegara & Indrawan (1988) diawali dari permukaan tanah yang terbuka karena adanya kerusakan, selanjutnya terbentuk vegetasi Cryptogame, berikutnya rumput dan semak kecil akan tumbuh sebagai vegetasi dasar yang selanjutnya berkembang menjadi semak belukar, tumbuhan pionir akan muncul berupa perdu  dan pohon hingga akhirnya akan menjadi vegetasi klimaks.

Suksesi sekunder : suksesi pada daerah dengan kerusakan terjadi pada lahan yang memiliki vegetasi, namun masih ada sebagian yang tersisa yang ditimbulkan  baik oleh kerusakan manusia, maupun bencana alam (Gopal & Bharwaj 1979; Resosoerdarmo et al. 1986). Tahapan yang terjadi dalam suksesi sekunder sama dengan suksesi dengan primer, hanya saja pada vegetasi suskesi sekunder lahan mengalami gangguan sehingga ada sebagian yang tetap tersisa, hingga waktu yang diperlukan untuk mencapai klimaks relatif singkat dan cepat (Indriyanto 2006; Odum 1975).

Proses suksesi terjadi dalam berbagai perubahan-perubahan yang mengarah keseimbangan dan kemajuan habitanya (Resosoerdarmo et al. 1986) yaitu: Perkembangan substrat tanah, Peningkatan densitas seperti  tinggi tumbuhan dan struktur komunitas (kompleks), Meningkatnya jumlah spesies sampai tahap tertentu, Adanya perubahan iklim setempa, Komunitas berkembang menjadi lebih kompleks. Adapun kecepatan suksesi pada setiap habitat dipengaruhi beberapa faktor (Resosoerdarmo et al. 1986), yaitu : Luas komunitas awal yang mengalami gangguan (tipe primer/sekunder), Spesies tumbuhan (pionir), Kehadiran bakal biji, buah, spora dan lailn-lain, Jenis substrat dan iklim. Tahapan pada suksesi primer terjadi dalam kurun waktu yang lama, dimana ditemukan pada tahap awal berupa tanaman herba dan tanaman berumur pendek yang berlimpah pada 30 tahun pertama, selanjutnya 2-3 tahun berikutnya mulai diganti oleh spesies tumbuhan berkayu (Raevel et al. 2012). Selain itu, faktor lingkungan lain sangat berperan penting dalam suksesi, dalam penelitian Derroire (2016) menyebutkan bahwa perkecambahan biji pada hutan yang terbuka secara alami dan masih bersih dari sampah lebih cepat dari pada kawasan hutan hutan yang sudah tercemari oleh sampah. Faktor  lingkungan lain yang berperan penting adalah suhu dan kelembaban pada suatu kawasan memegang peran penting dalam suksesi (Lebrija-Trejos et al. 2011).

Kemampuan suksesi yang dapat memulihkan kembali kerusakan pada komunitas atau ekosistem  melalui beberapa tahapan, yaitu : nudasi, invasi, kompetisi, reaksi serta stabilitas dan klimaks. Nudasi adalah proses pembentukan atau terjadinya wilayah, invasi adalah awal terjadi kehidupan organisme dari suatu daerah ke daerah yang baru dan menetap pada daerah baru tersebut, bakal kehidupan berupa biji, buah, spora (pionir). Invasi dikatakan sempurna bila telah melalui beberapa proses di antaranya: migrasi, penyesuaian dan agregasi. Kompetisi pada setiap organisme akan selalu terjadi agar tetap bertahan hidup hingga lingkungan mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga lingkungan menjadi sangat cocok (Indriyanto 2006; Holling 1973).

Perubahan-perubahan yang terjadi pada suksesi di lahan berbatu menurut Vickery (1984) terjadi dalam beberapa proses, di antaranya : batu-batuan, lichenes, lumut (mosses), xerophytes, rumput-rumputan (pada tahap ini jumlah spesies meningkat dan perubaham relatif cepat, semak-semak, perdu dan pohon (perubahan relatif lambat, namun  spesies dapat saja menurun karena adanya kompetisi), tahap akhirnya komunitas klimaks (terjadi keseimbangan dinamis dengan jumlah spesies tetap konstan). Keseimbangan dalam sebuah komunitas tidak lepas dari peran ketahanan ekosistem itu sendiri serta komposisi dari populasi dan komponen spesies di dalamnya (Holling 1973).

DAFTAR PUSTAKA

Derroire G. 2016. Secondary Succession in Tropical Dry Forests. [Doctoral thesis]. Bangor, UK & Alnarp, Sweden.

Gopal B, & Bhardwaj N. 1979. Elements of ecology. Stosius Incorporated/Advent Books Division.

Hoolling CS. 1973. Resilince and Stability of Ecological Systems. Instutute of Resource Ecology. University of British Columbia, Vancouver, Canada.

Indriyanto. 2006. Ekologi hutan. Bumi Aksara.

Irwan ZD. 1992. Prinsip-prinsip ekologi dan organisasi: ekosistem komunitas dan lingkungan. Bumi Aksara.

Lebrija-Trejos E, Perez-Garcia AE, Meave JA, Poorter L, Bongers F. 2011. Environmental changes during secondary succession in a tropical dry forest in Mexico. Journal of Tropical Ecology. 27 : 477– 489.  Cambridge University.

Odum EP. 1994. Dasar-dasar Ekologi. Diterjemahkan oleh T. Samingan.

Odum EP. 1975. Ecology: the link between the natural and the social sciences. Edisi ke-2. New York (US): Holt, Rinehart and Winston.

Raevel V, Munoz F, Pons V, Renaux A, Martin A, Thompson JD. 2012. Changing assembly processes during a primary succession of plant communities on Mediterranean roadcuts. Journal of Ecology. Vol 6. No 1 (19-28).

Resosoedarmo S, & Kartawinata, K Soegianto. 1986. Pengantar Ekologi.

Setiadi D dan Tjondronegoro PD. 1989. Dasar-dasar ekologi. Bogor (ID): IPB.

Soerianegara I, & Indrawan A. (1988). Ekologi Hutan Indonesia. Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. 123p.

Vickery ML. 1984. Ecology of tropical plants (No. 04; QK936, V5.).