RESILIENCE POWER (Daya lenting) 

Semua organisme dan lingkungannya selalu bersifat dinamis, artinya selalu terjadi interaksi antara jenis satu dengan jenis lainnya sehingga menghasilkan perubahan (Indriyanto 2006).  Perubahan dalam komunitas selalu terjadi,  bahkan komunitas hutan yang tergolong stabilpun akan terjadi perubahan baik secara alami maupun karena ulah tangan manusia. Interaksi yang terjadi diantara spesies pada suatu populasi saling berkaitan satu sama lain, spesies yang punah dan masih hidup mampu bertahan dan menjaga kestabilan melalui sistem ekologi (Holling 1973).  Oleh karena itu, perubahan yang terjadi dalam komunitas atau ekosistem selalu terdapat mekanisme atau proses yang mengembalikan kepada keadaan yang seimbang. Gopal & Bharwaj (1979) menyebutkan bahwa perubahan komunitas selalu berkorelasi dengan struktur atau komponen dalam komunitas tersebut. Perubahan fenologi dalam beragam spesies  sebagai sebuah komunitas tentunya akan membawa perubahan struktur dan komposisi komunitas tersebut. Mekanisme perubahan tersebut dikenal dengan dua mekanisme yaitu, perubahan siklis artinya perubahan komunitas yang terjadi dalam periode tertentu dan mudah kembali dalam keadaan yang hampir sama dengan keadaan semula (pembungaan, perkecembahan, penguguran daun dan penyebaran biji), sedangkan perubahan nonsiklis adalah perubahan komunitas secara drastis dan kondisi komunitas tersebut berubah dalam kondisi yang parmanen. Dalam sebuah komunitas hutan hal ini berkaitan dengan  dinamika komunitas yang diarahkan kepada terjadinya perubahan secara umum pada komunitas untuk pulih kembali dengan istilah suksesi. Dalam sebuah komunitas yang mengalami kerusakan secara luas dan besar, seperti suksesi yang dimulai dari bongkahan batu, pulau yang baru timbul, pasca gunung meletus dikenal dengan suksesi primer. Pada kondisi lain seperti kebakaran hutan,  banjir atau kegiatan biotis lainnya yang menyebabkan vegetasi asal musnah dikenal dengan istilah suksesi sekunder (Setiadi dan Tjondronegoro 1989; Indriyanto 2006).

Keseimbangan dalam Ekosistem

Ekosistem hutan tropis dikenal kaya dengan keanekaragaman hayati dan satwa lainnya, hal ini salah satu perwujudan ekosistem hutan mampu memelihara diri sendiri, menjaga keseimbangan dalam kondisi yang stabil (Irwan 1992). Selain itu, Setiadi dan Tjondronegoro (1989) menyebutkan bahwa ekosistem alam adalah suatu sistem ekologi yang di dalamnya, di mana terjadi hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannya. Kebakaran hutan menjadi salah satu pemicu rusaknya hutan sekarang ini. Selain itu, ulah tangan manusia dan perilaku tindakan yang tidak bijaksana, serta adanya fragmentasi hutan juga pemicu rusaknya ekosistem hutan.

Kemampuan ekosistem menjaga dan mempertahankan keseimbangan menahan berbagai perubahan disebut homeostasis (Resosoedarmo et al. 1986). Homeostasis berasal dari kata homeo yang artinya sama, dan statis yang artinya berdiri (Odum 1994). Sehingga dapat diartikan homeostasis adalah kestabilan yang dinamis karena adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada ekosistem tersebut hingga tercapainya keseimbangan yang baru. Meskipun pada ekosistem dapat mencapai keseimbangan yang baik (klimaks), sehingga ekosistem mempunyai daya tahan terhadap gangguan yang besar yang menimpanya (Indriyanto 2006).

Daya lenting (Resilience Power)

Dalam perubahan populasi terjadi perubahan secara berkelanjutan dan saling menjaga stabilitas satu sama lain, hal ini merupakan salah mekanisme suatu ekosistem untuk pulih kembali setelah ada kerusakan yang dikenal dengan istilah Resilience power (Holling 1973). Dalam sebuah ekosistem dikenal istilah aliran energi dalam ekosistem, adalah kemampuan ekosistem untuk melakukan kerja (Odum 1994). Di dalam sebuah ekosistem yang mengalami perubahan (resilience power)  akan terjadi persaingan antar spesies didalamnya (Holling 1973). Vegetasi dan permukaan tanah dalam sebuah ekosistem hutan memegang peranan penting dalam aliran energi dalam sebuah ekosistem (Setiadi dan Tjondronegoro 1989). Daya tahan dan kemampuan adaptasi ekosistem menghadapi gangguan sehingga perubahan-perubahan yang sudah terjadi masih dapat ditanggulangi hingga mencapai keseimbagan kembali, meskipun dalam waktu yang relatif lama. Kemampuan pulih kembali setelah kerusakan karena adanya gangguan, dapat bertahan dalam kerusakan dan perubahan yang terjadi dalam ekologi dikenal dengan istilah daya lenting (resilience power) (Indriyanto 2006). Semakin cepat kondisi suatu ekosistem pulih artinya makin pendek masa pulih, makin banyak gangguan yang dapat ditanggulangi artinya semakin besar dan makin tinggi daya lentingnya. Dalam sebuah ekosistem peran utama untuk pulih kembali tidak terlepas dari daur biogeokimia (daur hara, tipe sedimen berupa batuan bumi), daur nitrogen (Nitrat), daur fosfor (tipe sedimen), daur CO2 (Daur mineral) (Setiadi 1989).